• SMA ISLAM AL AZHAR 14
  • Where Tomorrow's Leaders Come Together

JUARA 1 SURAT UNTUK WAKIL RAKYAT (OLEH RISKY SABILURRASYID)

Semarang, 21 April 2016 Kepada Yang Terhormat Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Di tempat

Assalamualaikum Warohmatulahi Wabarokatu.

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan syukur atas kesempatan yang telah diberikan oleh Allah SWT, sehingga saya bisa menulis surat kepada Bapak/Ibu anggota DPR. Hal ini tentu menjadi sebuah kesempatan yang langka dan tidak akan saya sia-siakan.

Bagaimana kabar anda semua Bapak/Ibu? Saya berharap, dengan segala fasilitias lengkap dan kenyamanan di gedung Bapak/Ibu yang begitu megah, Bapak/Ibu senantiasa dalam keadaan sehat dan dapat menunjukkan kinerja terbaik untuk mewakili seluruh rakyat Indonesia.

Bapak/Ibu Yang Mulia Anggota Dewan... Setiap manusia yang terlahir ke muka bumi ini pasti sudah ditentukan takdirnya. Ada yang mendapatkan takdir untuk hidup dengan penuh kebahagiaan, tetapi ada pula yang ditakdirkan untuk menjalani hidup dengan penderitaan.

Akan tetapi, mereka yang memperoleh takdir untuk hidup bahagia bisa saja berubah menjadi seseorang yang hidup menderita, begitu juga sebaliknya. Menurut saya, semua itu karena proses dan kehidupan memang akan selalu berproses, bukankah demikian Bapak/Ibu?

Bapak/Ibu Yang Mulia Anggota Dewan... Apa yang menyebabkan seseorang akhirnya menjadi bahagia? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena mereka telah berusaha dengan sekuat tenaga supaya bisa mendapatkan kebahagiaan yang mereka damba-dambakan selama ini.

Sebaliknya, apa yang kemudian membuat seseorang yang sudah bahagia justru menjadi orang yang menderita? Hal itu karena sikap tamak dan rakus yang mereka pelihara. Jadi, kekayaan yang mereka punyai belum dan tidak akan pernah cukup untuk membuat mereka bahagia.

Akhirnya, mereka akan melakukan cara apa saja untuk terus memperkaya diri. Bahkan, jika mereka harus melakukannya dengan cara kotor sekalipun. Salah satunya adalah dengan korupsi yang tidak dipungkiri banyak terjadi di lingkungan kerja Bapak/Ibu.

Bapak/Ibu Yang Mulia Anggota Dewan... Korupsi, istilah ini pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. “Korupsi” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang saya baca berarti, “Penyelewengan atau penggelapan uang negara dan sebagainya untuk keuntungan pribadi atau orang lain.”

Perbuatan korupsi sesungguhnya senantiasa mengandung unsur “dishonest” (ketidakjujuran). Mendengarnya saja, kita sudah tahu bahwa korupsi pasti akan merugikan negara dan dapat mengabaikan keadilan untuk seluruh rakyat di Indonesia ini.

Bapak/Ibu Yang Mulia Anggota Dewan... Bicara tentang keadilan, jauh-jauh hari Presiden Soekarno telah mencetuskan sila kelima Pancasila yang berbunyi, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Dengan sila tersebut, Sang Proklamator tentu berharap agar tercipta keadilan di Republik ini.

Namun dewasa ini, Pancasila —termasuk sila kelima yang ada di dalamnya— justru menjadi simbol belaka. Seolah-olah, Pancasila hanya dijadikan sebagai objek pajangan oleh para aparat dan pejabat pemerintah. Oleh karenanya, “keadilan” kini merupakan sebuah pemandangan yang jarang sekali terlihat di Tanah Air Kita tercinta.

Bapak/Ibu Yang Mulia Anggota Dewan... Ada sebuah perbandingan kasus yang menurut saya sangat tidak fair. Sebut saja FN (inisial), adalah seorang anak kecil yang baru berumur 16 tahun dan dituduh telah mencuri delapan tangkai bunga adenium milik orang tua angkatnya (SU).

Akibat tuduhan tersebut, FN terpaksa harus merasakan dinginnya sel tahanan selama 40 hari. Meskipun demikian, akhirnya FN dibebaskan karena sesuai fakta persidangan FN tidak terbukti mencuri —itu pun setelah ada desakan dari sejumlah elemen masyarakat.

Saya berpikir, perkara sekecil itu bisa membawa seorang remaja berusia 16 tahun ke sel tahanan dan hampir kehilangan masa mudanya, apalagi dengan kasus korupsi? Akan tetapi, kenyataan berbicara lain. Banyak koruptor yang tidak mendapatkan hukuman tegas, bahkan tidak jarang juga dibebaskan.

Bapak/Ibu Yang Mulia Anggota Dewan... Maaf, sekali lagi maaf. Saya tergelitik untuk bertanya, lantas di mana letak peran Bapak/Ibu sebagai wakil rakyat? Bapak/Ibu telah dipilih oleh rakyat. Bukankah seharusnya bertanggung jawab melindungi untuk masyarakat dari ketidakadilan?

Apakah karena banyak rekan-rekan Bapak/Ibu yang ikut terlibat korupsi, sehingga anda semua “menutup mata” dengan ketidakadilan tersebut? Di sini, FN terbukti tidak memenuhi unsur-unsur pencurian. Namun, menganap harus ditahan? Di manakah letak keadilan bagi rakyat kecil?

Bapak/Ibu Yang Mulia Anggota Dewan... Saya akan memberi tahu, bahwa saat ini di masyarakat tengah berkembang sindiran untuk Bapak/Ibu sekalian. Begini isinya, anggota dewan itu sudah mewakili rakyat. Mengapa dikatakan demikian?

Rakyat ingin punya rumah bagus, mereka sudah mewakili. Rakyat ingin punya mobil banyak, mereka juga sudah mewakili. Rakyat ingin makan enak setiap hari, mereka pun mewakili. Bukankah begitu, Bapak/Ibu anggota dewan yang terhormat?

Belakangan ini, saya juga mendengar kabar bahwa DPR menyiapkan dana 2,6 miliar hanya untuk pewangi ruangan. Jika benar, sungguh ironis. Padahal, di daerah-daerah masih banyak wilayah yang terisolir. Jangankan untuk pengharum ruangan, untuk fasilitas umum saja masih banyak yang sangat tidak layak.

Bapak/Ibu Yang Mulia Anggota Dewan... Anda semua sudah merasakan kenikmatan lebih dari yang diimpikan oleh sebagaian besar masyarakat Indonesia. Dari manakah semua itu jika bukan berasal dari uang rakyat lewat setoran pajak. Namun, mengapa masih banyak uang rakyat yang diselewengkan?

Rakyat miskin yang sehari-hari hanya bisa makan nasi garam saja sudah sangat-sangat bersyukur. Mereka juga tidak perlu mempunyai mobil mewah, arloji bermerek prominen, perhiasan, dan kebutuhan tersier lainnya, sebab toh hal itu tak mempengaruhi hidup maupun pekerjaan mereka.

Bapak/Ibu Yang Mulia Anggota Dewan... Banyak pejabat yang menuruti hawa nafsunya. Jika sudah seperti itu, mereka tidak akan raguragu lagi untuk mengorbankan nama baik dirinya, keluarganya, bahkan bangsa dan negara. Mereka tidak peduli hinaan banyak orang atau hukuman dari Tuhan kelak, yang mereka dengarkan hanyalah “bisikan” korupsi.

Semestinya mereka sadar, bahwa mereka dipilih untuk bekerja, dan apa yang mereka kerjakan itu pada hakikatnya bukan “jasa” seperti yang dibayangkan banyak orang. Perlu digarisbawahi, bahwa yang mereka kerjakan sesungguhnya adalah amanah, kewajiban, dan tanggung jawab.

Bapak/Ibu Yang Mulia Anggota Dewan... Hidup tidak akan lama, usia kita amat pendek. Kita singgah di dunia ini hanya untuk mampir ngombe —kata pepatah Jawa. Apalah arti harta berlimpah jika diperoleh dengan cara-cara haram seperti korupsi? Jangan cemari nama baik Bapak/Ibu, tetapi mari ukirkan nama Bapak/Ibu di hati setiap orang dan sejarah dengan kesalehan.

Saya masih percaya Bapak/Ibu dapat mewakili kami semua —segenap rakyat Indonesia. Dengan demikian, saya serahkan seratus persen kepercayaan saya kepada Bapak/Ibu untuk menciptakan “Indonesia Bersih”, yakni Indonesia yang terbebas dari praktik-praktik korupsi.

Bapak/Ibu Yang Mulia Anggota Dewan... Akhir kata, tidak ada yang lebih berharga dari sebuah tulisan jika dilandasi dengan ketulusan dan kejujuran. Saya menulis surat ini dengan hati. Jadi, semoga Bapak/Ibu juga akan dapat menerimanya dengan hati yang lapang. Terima kasih.

Wassalamualaikum Warohmatulahi Wabarokatu.






Salam hormat,



Rizky Sabilurrasyid PP. — Pelajar SMA Islam Al Azhar 14 Semarang

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
PENERIMAAN MURID BARU SMA ISLAM AL AZHAR 14

Kampus Albama Semarang (Albama Bimatama) telah membuka Pendaftaran Murid Baru Tahun Pelajaran 2019/2020. Mari bergabung bersama kami di TOODLER - KB - TK, SD, SMP dan SMA Islam Al

23/02/2019 00:30 WIB - Master Admin
LAUNCHING ALBAMA STUDENT COMPANY

Semarang- Alhamdulillah hirobbil alamin, tanggal 19 Januari 2018 telah diresmikan perusahaan murid "Albama Student Company" oleh Kepala SMA Islam Al Azhar 14 Bapak Rasmudi, M.P

06/02/2018 01:32 WIB - Master Admin